BAB I
Pendahuluan
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk social (zoon
politicon) diaman manusia tidak dapat hidup sendiri, membutuhkan bantuan
manusia lain untuk melakukan semua kegiatan kehidupan manusia. Oleh karena itu
maka manusia akan mengelompok sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Dalam kelompok
ini manusia akan menerapkan yang Namanya keadilan kepada sesame manusia
Rumusan Masalah
·
Apa itu manusia?
·
Apa itu Keadilan?
·
Apa hubungan antara kedua hal tersebut?
BAB II
Pembahasan
Pembahasan
Definisi
Manusia
Manusia atau orang dapat diartikan
berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara
campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens
(Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies
primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam
hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi yang,
dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau
makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras
lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan
bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan
teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok,
dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan
jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir
entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan
laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan
perempuan dewasa sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari
janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan
(orang) tua.
Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang
lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung;
tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ,
warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga
dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman;
musuh) dan lain sebagainya.
Tokoh adalah istilah untuk orang yang tenar dan berpengaruh
misalnya 'tokoh politik', 'tokoh yang tampil dalam film', 'tokoh yang menerima
penghargaan' dan lain-lain.
Keadilan
adalah kondisi kebenaran ideal
secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut
sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John
Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka
abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama
dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran"
[1]. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai:
"Kita tidak hidup di dunia yang adil" [2]. Kebanyakan orang percaya
bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan
politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya
jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa
yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah
keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala
sesuatunya pada tempatnya.
Manusia Dan Keadilan
Hubungan antara manusia dan keadilan dapat dilihat dari sejak
jaman pra sejarah, dimana manusia masih nomaden (berpindah pindah) hal yang
mereka lakukan yang melambangkan sebuah keadilan adalah mereka bergerak secara
berkelompok dan membagi hasil buruan makan secara adil kepada seluruh anggota
kelompok. Pada manusia modern keadilan selalu di identikan dengan kesetaraan
atau kesamarataan yang sebenarnya merupakan 2 hal yang berbeda, yang membedakan
adalah keadilan tidak selau berarti sebuah kesamarataan. Sebagai contoh dalam
sebuah kereta dengan keadaan tempat duduk penuh kita yang tidak kebagian pasti
berdiri menunggu orang yang duduk untuk turun pada tujuan nya, kemudian ada
seorang kakek tua yang keksuahan berdiri, jika kita menerapkan nilai
kesamarataan, maka yang terjadi adalah kakek tersebut harus menunggu orang yang
duduk hingga dia turun di tujuannya, walaupun dia sudah tua dan kesusahan untuk
beridri. Sebaliknya jika kita menerapkan keadilan maka salah satu dari pemuda
yang duduk pasti akam memberikan tempat duduk nya kepada kakek tersebut karena
pemuda tersebut tidak memiliki permasalahan untuk berdiri lama. Dari contoh
kisah diatas dapat disimpulkan bahwa keadilan itu tidak selalu sama rata. Dari contoh
diatas juga dapat disimpulkan bahwa manusia sudah menerapkan keadilan sejak
lama, hingga sekarang dan masih terus hingga manusia punah. Keadilan sudah
bagian dari sebuah “manusia” secara keseluruhan. Jika seorang manusia tidak
memiliki jiwa keadilan maka harus dipertanyakan kemanusiaanya.
BAB III
Penutup
Penutup
Pada dasaranya
manusia yang normal pasi menginginkan keadilan. Oleh karena itu manusia pasti
akan memberikan keadilan kepada manusia yang lain
No comments:
Post a Comment